Mon. Oct 21st, 2019

Balai Hatpen Edukasi Personel Penerbangan Soal Sindroma Metabolik

Kesehatan personel penerbangan merupakan “nyawa” untuk tetap melakukan profesi mereka masing-masing. Pilot harus melakukan tes medis (medical examination) atau medex setiap enam bulan. Awak kabin, Flight Operation Officer (FOO), Air Traffic Controller (ATC), dan personel penerbangan lainnya harus pula melakukan medex sesuai dengan peraturan penerbangan yang berlaku.

Agar mereka tetap bisa bekerja sesuai profesinya, Balai Layanan Umum (BLU) Balai Kesehatan Penerbangan (Hatpen) terus mengedukasi personel penerbangan tentang pentingnya kesehatan. Salah satunya lewat seminar bertema “Risiko Inkapasitasi Personel Penerbangan Kondisi Sindroma Metabolik” yang akan dihelat di Hotel Grand Mercure Kemayoran, Jakarta, pada 1 Oktober 2019.

“Dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 55 Tahun 2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Kesehatan Perhubungan, Balai Kesehatan Penerbangan mempunyai tugas melaksanakan pemeriksaan, pengujian, dan pemeliharaan kesehatan personel penerbangan. Salah satu bentuk pemeliharaan kesehatan personel penerbangan adalah memberikan edukasi tentang kesehatan pada personel penerbangan,” tutur Sri Murani Ariningsih (Rindu), Kepala BLU Balai Hatpen usai memantapkan persiapan seminar tersebut di Jakarta, Sabtu (21/9/2019).

Menurut Rindu, menjaga kesehatan bagi para personel penerbangan merupakan hal yang harus menjadi prioritas. “Kami sebagai pembina di bidang kesehatan penerbangan secara berkesinambungan memberikan pengetahuan tentang kondisi berbagai gejala penyakit dan risikonya yang bisa jadi dialami personel penerbangan.”

Dalam seminar akan dipaparkan tentang kondisi sindroma metabolik dan bagaimana terjadinya inkapasitasi atau ketidakmampuan pada pelaksanaan tugas personel penerbangan akibat sindroma metabolik. Bagaimana pula cara pencegahan kondisi sindroma metabolik itu.

Sindroma metabolik adalah istilah kedokteran untuk menggambarkan kombinasi dari sejumlah kondisi, yaitu hipertensi (tekanan darah tinggi), hiperglikemia (kadar gula darah tinggi), hiperkolesterolemia (kadar kolesterol tinggi), dan obesitas, yang dialami secara bersamaan. Seseorang tidak dianggap mengalami sindroma metabolik apabila hanya menderita salah satu kondisi tersebut.

Kondisi-kondisi yang terdapat di dalam sindroma metabolik merupakan faktor risiko untuk mengalami penyakit yang serius. Sindrom ini meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke, juga diabetes.

Sebelumnya dalam rangka Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas), BLU Balai Hatpen ikut serta dalam pengobatan gratis yang diselenggarakan oleh Setjen Kementerian Perhubungan di Labuhan Banten. Seorang dokter umum, dua dokter gigi, dan seorang perawat, ditugaskan pada pengobatan gratis yang diikuti kurang lebih 300 pasien itu.

Dilakukan juga bakti sosial ke panti sosial Tresna Werdha Budi Mulia di Cengkareng, Jakarta Barat. “Kami melaksanakan pelayanan kesehatan dan memberikan bantuan berupa sembako. Panti sosial tersebut menampung kurang lebih 250 orang lanjut usia,” ujar Rindu.

Pada puncak kegiatan Harhubnas pada 17 September 2019, BLU Balai Hatpen melaksanakan aksi donor darah. Kegiatan yang dilaksanakan bersama Palang Merah Indonesia (PMI) ini menghasilkan 63 kantong darah.

“Berbagai kegiatan itu dilakukan untuk mempererat kebersamaan, kepedulian terhadap sesama. Harapannya, kami dapat meningkatkan semangat dan kinerja dalam memberikan pelayanan Prima (Profesional, Responsibility, Integritas, Mandiri, Akuntabel) tanpa korupsi, kolusi, dan nepotisme,” ucap Rindu.

Foto: Balai Hatpen

Baca ini juga ya!