Armada A330-300ceo Batik Air Jemput Pulang 245 WNI di Wuhan

Dengan mengerahkan armada pesawat Airbus A330-300ceo registrasi PK-LDY milik maskapai Batik Air, 245 warga negara Indonesia (WNI) yang masih berada di Provinsi Haubei, Cina dievakuasi, Sabtu (1/2/2020). Seperti diketahui, wilayah tersebut telah dinyatakan sebagai salah satu kota darurat Virus Corona.

Jenis pesawat berbadan lebar tersebut yang dimiliki maskapai afiliasi Grup Lion Air ini memiliki kapasitas kursi 392 kursi (18 kelas bisnis dan 374 kelas ekonomi untuk konfigurasi komersil).

“Kita akan melakukan misi kemanusiaan untuk memulangkan saudara kita di Wuhan ke Indonesia. Mungkin flight (selama) 6 jam. Kalau padat, bisa saja holding, kalau nggak padat bisa langsung landing, situasional saja,” tutur Presiden Direktur Grup Lion Air, Edward Sirait di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Sabtu siang.

Namun demikian, Edward akui dirinya belum mengetahui apakah pesawat itu bisa kembali ke Indonesia.

“Kita belum tahu, hanya mengikuti arahan dari penerima tugas. Flight plan pertama baru sampai ke Wuhan saja,” ungkap Edward.

Edward menerangkan, pihaknya bersedia pesawat itu digunakan untuk mengevakuasi WNI yang ada di Wuhan karena kapasitasnya yang besar. Di Indonesia, hanya dua maskapai yang mempunyai izin penerbangan ke sana, yakni Grup Lion Air dan Sriwijaya Air.

Dalam misi tersebut, pesawat membawa 19 kru dan 30 tim medis. Pesawat lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta (CGK) pukul 13.00 WIB dan dijadwalkan tiba di Bandara Internasional Tianhe Wuhan (WUH) pukul 19.00 waktu setempat. Bandara Tianhe Wuhan yang terletak di Distrik Huangpi, 26 kilometer utara dari pusat kota Wuhan, Hubei.

Baca Juga:

23 Maskapai di Dunia Batalkan Terbang ke Cina, Garuda Kapan?

Bangun Replika A320, Petani Bawang di Cina Habiskan Rp5,7 Miliar

Misi kemanusiaan untuk memulangkan ratusan WNI yang ada di provinsi tersebut dengan menyewa pesawat A330-300ceo Batik Air merupakan bagian dari program pemerintah Indonesia.

“Layanan operasional penerbangan bernomor ID-8618 adalah misi kemanusiaan bersama pemerintah dalam upaya mendukung program negara,” kata Komunikasi Strategis Perusahaan Batik Air, Danang Mandala Prihantoro.

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi menjelaskan, alasan pemerintah memilih Batik Air, karena pemerintah Cina sejauh ini hanya mau menerima operator penerbangan telah mengantongi izin penerbangan regular dari dan ke Wuhan.