Antisipasi Kedatangan Vaksin Covid-19, JAS Perluas Area Pendingin Tertutup

Read Time:1 Minute

Untuk menghadapi tantangan cold chain dari distribusi vaksin Covid-19 dan produk farmasi lain, JAS Airport Services (JAS)
meningkatkan kemampuan penanganannya. JAS juga mulai mengidentifikasi sejumlah penambahan fasilitas cold chain untuk mengantisipasi kedatangan vaksin tersebut dalam jumlah banyak.

Dalam siaran pers JAS, Selasa (8/12/2020) disampaikan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjabarkan bahwa cold chain adalah sistem penyimpanan dan pengangkutan vaksin atau obat-obatan dengan suhu tertentu yang direkomendasikan, mulai dari titik produksi hingga titik penggunaan. Cold chain biasanya melibatkan tiga komponen utama infrastruktur, yaitu pesawat terbang, truk, dan gudang penyimpanan yang dingin.

Fasilitas cold chain di setiap Cargo Terminal Operator (CTO) menjadi aspek penting dalam kesatuan mata rantai logistik sebelum didistribusikan ke masyarakat. Hal ini dikarenakan vaksin Covid-19 dan produk farmasi biasanya memerlukan suhu dan prosedur penanganan yang berbeda dengan produk lain karena sifatnya yang mudah rusak jika terkena panas, cahaya, atau dingin, yang berlebihan.

Saat ini, JAS memiliki 11 fasilitas penyimpanan dingin dalam gudang impor dan ekspor. Ruang ini dengan temperatur terkontrol mulai dari -2 ℃ hingga -25 ℃ untuk freezer room, 2 ℃ hingga 8 ℃ untuk chiller room, dan 15 ℃ hingga 25 ℃ untuk cold rooms.

JAS akan memperluas area pendingin tertutup (enclosed refrigerated area) menjadi sekitar 2.062,5 meter kubik dengan temperatur 15 °C – 25 °C. Perluasan ini untuk penyimpanan produk farmasi dan aktivitas e-facilitation, seperti pemilahan ulang, pengemasan ulang, dan pelabelan ulang untuk distribusi.

JAS juga akan menambahkan jalur antrian pendingin (refrigerated queue lanes) dengan kisaran temperatur 15 °C – 25 °C. Ini untuk memastikan agar suhu pada jalur yang dilewati oleh produk farmasi, mulai dari awal turun pesawat, tetap terjaga. Disediakan pula selimut termal (thermal blanket) untuk menutupi palet yang membawa produk farmasi.

Di sisi lain, JAS tengah mengikuti prosedur untuk mendapatkan sertifikasi IATA CEIV Pharma. Menurut Komisaris Utama JAS, Herman Prayitno, sertifikasi ini penting untuk memastikan integritas produk farmasi di seluruh rantai pasokan.

“JAS akan menjadi CTO pertama di Indonesia yang mendapatkan sertifikasi IATA CEIV Pharma. Tujuannya jelas, selain kepatuhan terhadap regulasi dan standar internasional, JAS akan diakui secara global dan dinyatakan siap untuk menangani produk farmasi secara konsisten,” ucap Herman.

Ditambahkannya, “Validasi IATA CEIV Pharma diharapkan selesai pada Maret 2021. Saat ini, JAS sudah memiliki sertifikasi Good Distribution Practice (GDP) dari WHO sejak tahun 2014.”

Foto: JAS