Angkasa Pura II Turunkan Nilai Investasi Hingga 42 Persen

ap ii

Nilai investasi Angkasa Pura II (AP II) akan diturunkan pada 2020 hingga 42 persen. Langkah ini dilakukan seiring dengan sejumlah proyek besar yang sudah selesai dikerjakan pada tahun ini.

Direktur Utama AP II, Muhammad Awaluddin mengatakan bahwa sejumlah proyek besar yang dimaksud meliputi pembangunan Terminal 3, runway 3 dan east cross taxiway (ECT) di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng, Banten.

Disamping itu, ada proyek pengembangan yang sudah rampung maupun sedang berjalan pada tahun ini, seperti Bandara Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru, Bandara Silangit di Siborong-borong, Bandara Sultan Thaha di Jambi, dan Bandara Minangkabau di Padang.

“Angka (alokasi investasi) yang sudah kami hitung sekitar Rp8triliun untuk 2020, sedangkan tahun ini sebanyak Rp14triliun. Kami bukan sengaja menahan (investasi), melainkan karena beberapa proyek besar tadi (yang) sudah selesai,” terangnya, Ahad (15/12/2019), seperti dikutip bisnis.com.

Dijelaskan lebih lanjut, alokasi investasi 2019 yang terbesar untuk pengembangan Bandara Soekarno-Hatta. Bandara ini selalu mendapatkan porsi investasi hingga 60 persen, karena sebagian besar pendapatan dan keuntungan berasal dari sana.

Tercatat, AP II telah mengalokasikan dana investasi hingga Rp14triliun pada 2019 untuk menyelesaikan 338 program maupun proyek kerja sama dengan para vendor.

Dana tersebut telah digunakan untuk investasi infrastruktur fisik seperti pembangunan dan pengembangan bandara-bandaranya, baik fasilitas di sisi darat maupun sisi udara.

Selain itu, investasi hingga Rp500miliar untuk infrastruktur nonfisik seperti pengembangan infrastruktur digital untuk menunjang operasional bandara.

AP II telah fokus menjalankan transformasi digital selama 3 tahun terakhir untuk mempercepat peningkatan standar operasional dan pelayanan di semua bandara yang mereka kelola.

Awaluddin mengatakan, implementasi smart and connected airport akan terus berlangsung dan mulai memasuki era baru. AP II ke depannya akan memanfaatkan big data analytics, virtual reality, dan artificial intelligence untuk semakin memodernkan layanannya.

“Kami memahami era disrupsi di bandara ke depan, bukan hanya berdampak kepada teknologi, tetapi sekaligus juga membawa dampak terhadap regulasi kebandarudaraan, dan kompetensi SDM pengelola bandara,” tandasnya.

Beberapa produk hasil transformasi digital antara lain Airport Operation Control Center (AOCC) untuk koordinasi seluruh stakeholder penerbangan; Terminal Operation Center (TOC) untuk memantau unit operasional, keamanan dan pelayanan berjalan dengan baik; Self Boarding Gate untuk meningkatkan efisiensi dan ketepatan waktu terbang maskapai; dan iPerform Apps guna membantu memantau aktivitas di bandara seperti status parking stand, garbarata, data TOC, toilet, hingga terkait bisnis

Selain itu, terdapat pula Digital Officer with Digital Device (DODD), Autogate dan E-Ticket di Shelter Bus, dan Self Check-in Kiosk dan Self Baggage Drop.