Angkasa Pura I Bikin Galeri di Bandara Bisa Tampung 650 Pelaku UMKM

Bekerja sama dengan pemerintah daerah (pemda) dan pemangku kepentingan lainnya, PT Angkasa Pura (AP) I (Persero) menyiapkan galeri untuk menampung usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di 13 bandara dari 15 bandara yang dikelolanya. Disiapkan 13 konsep Galeri UMKM dengan luas 2.312 meter persegi dan berpotensi melibatkan 650 pelaku UMKM.

“Galeri UMKM di bandara bisa dimanfaatkan para pelaku UMKM di wilayah bandara yang dikelola AP I. Dengan begitu, mereka memiliki kesempatan untuk meningkatkan peluang produk-produk mereka agar dapat dikenalkan dan dipasarkan kepada penumpang pesawat terbang,” ujar Faik Fahmi, Direktur Utama AP I dalam konferensi pers virtual, Rabu (16/12/2020).

Faik menjelaskan, AP I memiliki komitmen dan konsisten dalam meningkatkan sinergi dan kolaborasi dengan para pelaku UMKM. “Komitmen untuk memberdayakan dan meningkatkan perekonomian masyarakat. Komitmen terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat merupakan kunci bagi keberlanjutan bisnis perusahaan,” tuturnya.

Direktur Pemasaran & Pelayanan AP I, Devy Suradji mengatakan, pemda serta pemangku kepentingan lokal lain, seperti asosiasi, para pelaku seni, dan kelompok pegiat pemberdayaan kesejahteraan keluarga (PKK), dilibatkan karena merupakan bagian dari pengembangan pariwisata daerah.

“Agar mereka siap berkembang, bersamaan dengan momen kebangkitan industri pariwisata pada masa adaptasi kebiasaan baru,” ucapnya.

Dari 13 Galeri UMKM itu, enam di antaranya sudah berdiri di enam bandara. Yaitu di Bandara Internasional Yogyakarta, Kulon Progo; Bandara Jenderal Ahmad Yani, Semarang; Bandara Adi Soemarmo, Solo; Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar; Bandara SAMS Sepinggan, Balikpapan; dan Bandara Sentani, Jayapura.

Empat galeri masih dalam fase 1 atau tahap penyiapan konsep dan penyeleksian potensi mitra. Sementara itu, tiga galeri sudah masuk fase 2 atau tahap perincian mekanisme kerja sama dengan mitra.

Ketujuh Galeri UMKM tersebut berada di Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin; Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali; Bandara El Tari, Kupang; Bandara Juanda, Surabaya; Bandara Lombok Praya; Bandara Sam Ratulangi, Manado; dan Bandara Adisutjipto, Yogyakarta.

Konsep Galeri UMKM itu berciri kedaerahan, seperti di Ngurah Rai mengusung konsep “Peken Tenten” atau “Summer in Bali”. Di Syamsudin Noor, konsep yang diusungnya adalah “Pasar Terapung”. Di El Tari Kupang mengusung “Pasar Katemak” dan di Juanda adalah “Pasar Suramadu”.

Di YIA Kulon Progo diusung konsep Galeri UMKM “Pasar Kota Gede”. Galeri ini paling luas, yakni 1.513 meter persegi, dan terbesar di Indonesia, yang dapat merangkul 300 lebih pelaku UMKM.

“Kami berupaya untuk meningkatkan kelas produk-produk UMKM lokal serta memberi peluang untuk mempromosikan dan memperluas pangsa pasarnya,” ungkap Faik.

Foto: Indoaviation