Ada 17 Calon Mitra Strategis untuk Kelola Bandara Kualanamu

Angkasa Pura II (AP 2) telah melaporkan kepada Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bahwa ada 17 mitra strategis yang potensial untuk mengelola Bandara Internasional Kualanamu di Deli Serdang, Medan, Sumatera Utara.

Presiden Direktur AP 2, Muhammad Awaluddin menyampaikan bahwa bandara berkode KNO tersebut akan dibuka potensinya ke mitra strategis untuk mendorong tak hanya nilai investasi, tetapi juga dari sisi pertumbuhan ekonomi daerah sekitar.

“Laporan kami ke Pak Tiko, Wamen BUMN (Kartiko Wirjoatmodjo), ada 17 potensial bidders,” ungkap Awaluddin, seperti dikutip Bisnis.com, Kamis (5/3/2020).

Dia menjelaskan, sistem regulasi yang ada di Indonesia saat ini cukup ketat memproteksi kebandarudaraan berdasarkan UU No.1/2009 tentang Penerbangan. Oleh sebab itu, dia mengharapkan adanya perubahan dalam melakukan kerja sama strategis.

Saat ini, AP 2 tengah melakukan penyesuaian regulasi dalam menawarkan Bandara Kualanamu agar sesuai dengan dinamika industri. Selain itu, penyesuaian juga dilakukan dalam merespon usulan dari investor.

Awaluddin menerangkan disrupsi regulasi saat ini telah berbeda jauh dengan terdahulu. Dia menilai, regulasi yang ketat dalam mengatur kebandarudaraan tidak lepas dari fungsinya sebagai salah satu alat pertahanan negara. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini keberadaan bandara menjadi pemantik pertumbuhan ekonomi daerah.

Baca Juga:

Rombak Direksi AP 2, Erick Thohir Tak Ganti Dirutnya

Desain Terminal 4 Soekarno-Hatta Ditargetkan Rampung Februari 2020

“Tidak semua bandara posisinya profitable. Namun sekarang kami tidak hanya berpikir soal besaran pengembalian investasi, tetapi juga economic rate of return. Bandara menjadi trigger mendorong perekonomian,” ujarnya.

Sebelumnya, AP 2 mencatat sebanyak 39 badan usaha mengajukan Dokumen Penjajakan (Letter of Intent/ LoI) sebagai mitra strategis pengelolaan Bandara Internasional Kualanamu. Di antaranya berasal dari Asia Timur, Asia Barat, kawasan Asean hingga Eropa. Dia memerinci dari sejumlah 39 perusahaan tersebut delapan di antaranya berasal dari domestik.

Awaluddin melanjutkan, saat ini perseroan telah merilis amandemen Dokumen Permintaan (Request for Proposal/ RfP) yang sebelumnya pernah diterbitkan pada 9 Juli 2019.

Perubahan dokumen tersebut yang paling mendasar terkait dengan struktur transaksi. Dengan berubahnya struktur transaksi, AP 2 memberikan perpanjangan waktu dalam mengumpulkan penawaran proposal kepada para calon mitra strategis hingga 22 Juni 2019.

Dengan menggandeng mitra strategis, kapasitas dan luasan gedung terminal bandara akan ditingkatkan menjadi dua kali lipat, dari saat ini 8 juta menjadi hingga 16 juta penumpang.

Pada tahap awal, manajemen telah mempersiapkan belanja modal senilai Rp3triliun. Selanjutnya, nilai belanja modal yang harus digelontorkan akan bergerak sesuai dengan ekspansi pergerakan penumpang.