Wed. Nov 20th, 2019

5 Tahun Kinerja Kemenhub, Ini Daftar Capaiannya

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi paparkan kinerja Kementerian Perhubungan selama periode 2014-2019. Sumber gambar: Ery.

Selama periode pemerintahan 2014-2019, Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi membeberkan kinerja Kementerian Perhubungan sebagai laporannya kepada rakyat. Banyak dari program kementerian yang telah tercapai targetnya hingga tahun ini. Namun demikian, ada juga sejumlah program yang belum selesai terlaksana di akhir masa jabatannya sebagai Menhub.

Dalam kurun waktu lima tahun tersebut, Budi mengatakan bahwa telah dilakukan pembangunan infrastruktur transportasi dengan pendekatan Indonesia Sentris untuk membuka keterisolasian. Pihaknya memberikan dukungan aksesibilitas terhadap daerah 3TP (Terluar, Terdepan, Tertinggal dan Perbatasan).

Program yang dilakukan di antaranya melalui penyediaan prasarana 18 rute tol laut dengan tujuan menekan disparitas harga di Indonesia Timur; 891 trayek angkutan perintis (angkutan jalan, SDP, KA, laut dan udara); serta pembangunan dan pengembangan 131 bandara di daerah rawan bencana, perbatasan dan terisolir.

“Filosofi Indonesia sentris itu menjadi tekanan dari apa yang kita lakukan, baik berupa pembangunan maupun kegiatan yang dilaksanakan dengan memperhatikan daerah-daerah terluar terdepan, tertinggal dan di perbatasan,” Kata Budi di Jakarta kepada awak media, Sabtu (19/10/2019).

Pada sektor Perhubungan Udara, capaiannya antara lain pembangunan bandara baru di 15 lokasi untuk peningkatan konektivitas antarwilayah dan mendukung pariwisata lima Bali Baru Indonesia. “Di sektor Perhubungan Udara kita membangun di 15 lokasi, dan konektivitas wilayah bertambah baik. Juga kita akan dukung untuk usaha pariwisata yang kita sampaikan yakni 5 Bali baru,” paparnya.

Dari 15 bandara, 10 di antaranya sudah selesai di bangun. Antara lain Bandara Letung, Namniwel, Miangas, Morowali, Werur, Maratua, Kertajati, Samarinda Baru dan Tebelian. Hampir semua bandara itu telah diresmikan. Sementara lima bandara lainnya belum selesai dibangun, antara lain Siau, Nabire Baru, dan Fakfak Baru.

Selanjutnya, Kemenhub juga telah melaksanakan program Jembatan Udara untuk meningkatkan konektivitas logistik dengan menyediakan 39 rute yang dilayani sampai ke daerah-daerah pedalaman, terpencil dan pulau terluar untuk pemerataan serta kesenjangan ekonomi dan pembangunan antar wilayah di Indonesia bagian Timur.

“Kemenhub juga membuat jembatan udara atau konektivitas logistik ke daerah-daerah pegunungan, ada 39 rute yang dilalui, mereka adalah di daerah pedalaman, terpencil, terluar dan bisa dibayangkan mereka hanya mendapatkan suplai logistiknya dari angkutan-angkutan logistik tersebut,” kata Budi.

Budi menambahkan, pembangunan infrastruktur transportasi yang dilakukan juga untuk membuka ruang ekonomi baru di daerah-daerah. Misalnya, melalui dukungan pengembangan kawasan wisata dengan penyediaan akses transportasi dari dan menuju area tersebut, baik sarana maupun prasarana pendukung.

“Karena pariwisata berkaitan erat dengan sektor ekonomi kreatif, dan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah,” ungkapnya.

Budi menerangkan, adanya lima Bali baru yang menjadi destinasi wisata super prioritas, yaitu di Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo dan Manado. “Untuk kelima daerah tersebut, kami telah fokus melakukan pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana transportasi seperti bandara, pelabuhan, kereta api, jalan dan sebagainya,” jelasnya.

Di sektor Perhubungan Darat, capaiannya seperti pembangunan Bus Rapid Transit (BRT), rehabilitasi terminal, pembangunan pelabuhan penyeberangan dan pembangunan kapal.

Unutk capaian sektor Perhubungan Laut, antara lain pembangunan pelabuhan nonkomersial di 118 lokasi. Dilakukan juga pengembangan pelabuhan, di antaranya Pelabuhan Patimban, Pelabuhan Kuala Tanjung dan proyek tol laut.

Terkait tol laut, Budi menyebut sudah dilakukan dengan intensif. Dalam lima tahun ini sudah ada 18 rute. Hal itu memungkinkan disparitas harga bisa ditekan dan memastikan pasokan sembilan bahan pokok bisa didapatkan masyarakat wilayah Timur Indonesia. Lalu, ada pula 891 angkutan perintis yang meliputi beragam moda transportasi.

Untuk meningkatkan sektor logistik, Kemenhub juga akan menjadikan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan hub internasional. Hal tersebut dilihat dari arus bongkar muat (troughput) petikemas di Kawasan Pelabuhan Tanjung Priok tahun 2018 yang mencapai 7,5 juta TEUs. Diharapkan hal ini dapat terus bertambah menjadi 8 hingga 12 juta TEUs di tahun 2019. Sehingga ke depannya perdagangan ke luar negeri dari Indonesia dapat ditangani oleh Pelabuhan Tanjung Priok.

Sedangkan capaian pada sektor Perkeretaapian, Kemenhub telah pembangunan proyek Double-Double Track (DDT), reaktiviasi jalur KA, pembangunan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung dan Kereta Semi Cepat Jakarta-Surabaya.

Namun demikian, kinerja pembangunan kereta api masih belum maksimal karena terkendala berbagai hal. Setidaknya pada periode ini Kemenhub sudah membangun lintasan kereta api sepanjang 853 km dari target yang ingin dipenuhi sepanjang 967 km. Kendala ini dialami karena investasi dari swasta belum masuk dengan maksimal.

Selain itu, Kemenhub juga telah melakukan pengembangan transportasi massal perkotaan. Pengembangan angkutan massal di wilayah perkotaan mampu memindahkan sebagian pengguna kendaraan pribadi untuk berpindah ke angkutan umum. Di Jabodetabek, proporsi perjalanan dengan angkutan umum terus meningkat seiring perbaikan layanan angkutan umum yang ada. Saat ini sudah ada MRT dan KRL yang mampu menarik minat masyarakat menggunakan transportasi massal.

“Dalam hal transportasi perkotaan jelas angkutan massal menjadi pilihan, sehingga akhirnya kita memiliki MRT dan LRT. Suatu hasil yang membanggakan untuk semuanya,” ujarnya.

Namun Budi menyebut, LRT Jabodebek baru akan beroperasi pada 2021.

Budi mengklaim angkutan massal perkotaan cukup intensif. Dia pun berharap kapasitas angkut sistem transportasi ini bisa setara seperti di kota-kota negara maju.

“Kita akan tingkatkan okupansinya menjadi 60-80% seperti Tokyo, Singapura. Oleh karenanya ke depan kita sudah merancang MRT dengan panjang yang lebih signifikan bahkan kita rencanakan sampai 200 km. Begitu juga LRT kerja sama dengan pemda DKI dan di 5-6 kota lain kita akan bangun LRT atau sejenisnya,” tandasnya.

Baca ini juga ya!