Tue. Feb 25th, 2020

49 Sisa Pesanan 737 MAX 8 Garuda Indonesia Belum Jelas Nasibnya

Armada pesawat Boeing 737 MAX 8 milik maskapai Garuda Indonesia. Sumber gambar: Aviatren.

                                   

Sebanyak 49 unit pesawat jenis Boeing 737 MAX 8 pesanan Garuda Indonesia masih belum jelas nasibnya, apakah akan mengganti dengan tipe lain atau bahkan beralih ke produk Airbus. Jumlah tersebut merupakan sisa pesanan dari total 50 pesawat yang akan memperkuat armada maskapai pelat merah tersebut.

“Untuk yang Boeing itu, dari 50 yang di-order, tujuannya adalah untuk menggantikan enjin kita yang akan habis masa sewanya. Kita baru datang satu (737 MAX 8) di Desember 2017. Dan sekarang, atas keputusan dari Garuda, yang 49 (sisanya) itu sudah kita katakan dengan Boeing untuk meng-cancel,” tutur Direktur Keuangan & Manajemen Resiko Garuda Indonesia, Fuad Rizal di Cengkareng, Kamis (23/1/2020).

Fuad mengatakan, saat ini masih dalam proses negosiasi dengan Boeing untuk ke depannya apakah kita akan mengkonversi 49 unit sisa pesanan pesawat tersebut ke tipe lain.

“Tapi yang pasti kita memutuskan untuk tidak mengambil sisa yang 49. Mungkin nanti ada tipe-tipe yang bisa didiskusikan. Belum ada kabar (terbaru soal pesanan tersebut),” imbuhnya.

Sayangnya, Fuad juga belum bisa menjelaskan apakah satu pesawat yang telah dikirim akan dikembalikan juga atau akan ada kompensasi yang diberikan dari Boeing. Seperti diketahui, seluruh pesawat jenis tersebut dilarang terbang secara global sejak dua insiden fatal yang melibatkan pesawat jenis itu.

Sebelumnya, pada Desember 2019 Fuad yang saat itu merangkap jabatan sebagai plt Direktur Utama juga mengatakan Garuda Indonesia telah mengirim surat kepada Boeing Company untuk membatalkan pesanan 49 pesawat tipe 737 MAX 8.

“Kita sudah kirim surat (ke Boeing) minta cancel. Memang sekarang kita lagi negosiasi, nanti akan pergantian tipe pesawat,” ungkap Fuad Rizal di Cengkareng, Jum’at (27/12/2019).

Fuad menegaskan bahwa Garuda Indonesia tidak ingin menerima seri apapun dari tipe pesawat 737 MAX.

“Kita sudah bilang (ke Boeing), kita enggak mau seri apapun untuk MAX,” tegasnya.

Satu unit telah diterima maskapai pada 21 Desember 2017. Namun sejak 12 Maret 2019 pesawat tersebut dilarang terbang oleh Kementerian Perhubungan dan Otoritas Penerbangan Sipil AS (14/3/2019) menyusul kecelakaan fatal seri pesawat tersebut milik Lion Air (29 Oktober 2018) dan Ethiopian Airlines (10 Maret 2019).

Seperti diketahui, produk pesawat 737 MAX 8 pabrikan Boeing memiliki cacat pada sistem anti-stall pesawat (Maneuvering Characteristics Augmentation System/ MCAS). Fitur terbaru pada produk teranyar pabrikan pesawat asal Amerika Serikat ini berkontribusi terhadap kedua kecelakaan udara fatal tersebut.