32 Siswa dan Instruktur Pilot Studi Banding tentang FAA Safety Training

Sejumlah 32 siswa dan instruktur pilot dari Politeknik Penerbangan Indonesia (PPI) –sebelumnya STPI— Curug melakukan studi banding di FAA safety training provider. Studi banding dan workshop sehari itu dilaksanakan oleh 14DayPilot Flight Academy LLC di Jakarta pada 30 Januari 2020.

“Sebagai sahabat, saya suka bertukar pikiran dengan Gema. Kenapa tidak, kita saling berbagi dan melakukan kegiatan positif untuk membekali siswa dan instruktur penerbang di Curug. Sharing knowledge-lah,” tutur Capt Avirianto, Direktur PPI ketika meninjau FAA Safety Pilot Workshop “Pilot in Command Decision Making in Multi Engine Instrument Flight”, Kamis (30/1/2020) malam.

Menurut Avirianto, berbagi ilmu dan pengetahuan dalam pendidikan penerbang akan memberikan wawasan yang lebih luas, khususnya bagi para siswa dan instruktur PPI. “Mereka sudah dan sedang belajar bagaimana sistem pendidikan penerbang di Indonesia dan mereka jadi tahu bagaimana di Amerika Serikat,” ujarnya.

Pendiri 14DayPilot Flight Academy LLC, Capt Gema Merdeka Goeyardi mengatakan, kegiatan tersebut secara khusus dilaksanakan untuk PPI Curug. “FAA Safety Workshop adalah event resmi dari FAA safety training provider yang dilaksanakan oleh 14DayPilot Flight Academy. Ini sebagai ajang studi banding untuk terus meningkatkan keselamatan penerbangan di Indonesia dan Asia,” ucapnya.

Gema menambahkan, “Para siswa dan instruktur yang ikut kelas tadi begitu antusias. Mereka pun baru tahu kalau banyak ilmu yang bisa mereka dapatkan dari workshop ini. Kita belajar bagaimana mengambi keputusan yang tepat ketika menghadapi kondisi tak biasa. Bukan hanya prioritas safety, tapi juga yang mengacu pada ekonomi. Ini kan penting.”

Pendidikan penerbang di PPI menerapkan Civil Aviation Safety Regulation (CASR) 141, sementara yang dilaksanakan 14DayPilot Flight Academy adalah CASR 61. Bagaimana, kata Avirianto, mereka nantinya bisa tahu dan mengenal kedua sistem pendidikan itu. Bahkan bisa tahu, bagaimana pendidikan penerbang yang berstandar FAA (Federal Aviation Administration) itu.

Kata Gema, kalau di CASR 141 sistem pendidikannya sudah teratur, yang dilaksanakan bertahap dan berurutan. Sementara sistem pendidikan di CASR 61 lebih fleksibel, tidak harus sesuai tahapan “Siswa bisa ‘lompat’ ke tahap berikutnya dan lebih personal. Jadi setiap siswa akan beda-beda cara menempuh pendidikannya.”

Sistem atau kurikulum yang diterapkan setiap institusi pendidikan memang bisa tidak sama. Namun, ucap Avirianto, dalam pendidikan penerbang, regulasinya sudah jelas dan ada rambu-rambu yang mengacu pada keselamatan penerbangan.

“Kita atau para instruktur sudah tahu apa saja rambu-rambu untuk safety itu. Studi banding dilakukan agar pemikiran kita lebih terbuka dan wawasan jadi lebih luas lagi,” ungkap Avirianto.