Tue. Aug 4th, 2020

30 Kasus Penerbangan Diinvestigasi KNKT, 10 Kecelakaan karena Ekskursi Landasan

                                   

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menginvestigasi 30 kasus penerbangan dengan kategori delapan kecelakaan (accident) dan 22 insiden serius (serious incident). Ada 10 kejadian ekskursi dari landasan (runway excursion), yang mendominasi kasus yang diinvestigasi, hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Tidak setiap kecelakaan kami investigasi. Secara keseluruhan, ada 78 kasus yang diinvestigasi KNKT tahun 2019. Untuk moda pelayaran 25 kasus, lalu lintas angkutan jalan (LLAJ) 16 kasus, moda kereta api tujuh kecelakaan, dan moda penerbangan 30 kasus,” kata Haryo Satmiko, Wakil Ketua KNKT, dalam acara rilis media “Capaian Kinerja KNKT dan Review Kecelakaan Transportasi Tahun 2019” di Jakarta, Kamis (19/12/2019).

Ditambahkannya, capaian kinerja KNKT dapat dilihat dari jumlah laporan investigasi serta rekomendasi keselamatan yang diterbitkan. KNKT pun sudah menyelesaikan lima laporan moda penerbangan serta menerbitkan 39 rekomendasi keselamatan. Persentasi dari rekomendasi ini, 44% merupakan pengendalian atau pengawasan, 56% menyangkut pengaturan atau aturan.

Salah satu laporan yang telah diselesaikan adalah kejadian Boeing 737 MAX 8 registrasi PK-LQP yang Iepas kendali di Tanjung Karawang, Jawa Barat. Kepala Sub Komunikasi Penerbangan KNKT, Nurcahyo Utomo mengatakan, “Kecelakaan Boeing 737 MAX 8 menyita waktu dan sumber daya manusia kami, sehingga tak banyak kasus lain yang bisa diselesaikan.”

Dia pun menjelaskan, tren kecelakaan pesawat menurun, begitu juga dengan serious accident. Namun jika dibandingkan dengan kejadian penerbangan dunia, kecelakaan pesawat dengan berat lebih besar dari 5.700 kg tahun 2019, Indonesia lebih tinggi dengan rata-rata 4,1. Untuk perbandingan saja, pada tahun 2018, rata-rata Indonesia 3,1, sementara internasional 2,6.

Peristiwa menonjol tahun 2019 adalah low altitude operation (LALT) Cessna172 PK-WUG di Sungai Cimanuk, Jawa Barat, pada 22 Juli, yang menyebabkan pesawat rusak parah dan satu orang meninggal dunia. Pesawat menabrak kabel listrik dan terjadi kecelakaan. Penerbangan rendah ini, kata Nurcahyo, rupanya sering dilihat penduduk setempat dan petugas PLN sering pula mendapati kabel listrik rusak.

Kejadian lainnya adalah controlled flight into terrain (CFIT) DHC-6 Twin Otter PK-CDC di U-pass Illaga, Papua, pada 18 September. Pesawat hancur dan menyebabkan empat korban meninggal dunia. “Area yang disebut U-pass itu memang terkenal di Papua, yang rawan kecelakaan,” ucapnya.

Nurcahyo juga mengungkapkan, adanya peristiwa unik juga terjadi, yakni kejadian akibat turbulensi atau turbulence encounter. Ada dua kejadian, salah satunya waktu terbang di Aceh. Ada juga karena pilot pingsan, ini dua kasus juga. Maka perlu dicermati pula menyangkut kesehatan awak kokpit.

Kesehatan penerbang merupakan salah satu isu keselamatan investigasi tahun 2019. Isu lainnya adalah implementasi safety management system, pengawasan operasi penerbangan, serta desain dan sertifikasi pesawat udara.

Isu tersebut terekomendasi dalam 39 rekomendasi yang sudah dikeluarkan KNKT. Dari jumlah itu, ada delapan rekomendasi bagi otoritas penerbangan AS, Federal Aviation Administration (FAA) yang sampai kini belum ditindaklanjut. Sementara bagi pabrikan Boeing ada enam rekomendasi, lima di antaranya belum ditindaklanjut.

“Tenggat waktunya pada akhir Januari 2020. Mendekati akhir-akhir tenggat waktu biasanya ada tindak lanjut,” kata Nurcahyo.