Sat. Nov 16th, 2019

1 Januari 2020 TNI AU Beli dua Skadron F-16 Viper

Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal TNI Yuyu Sutisna menyatakan pertahanan udara Tanah Air akan diperkuat dua skadron udara pesawat tempur generasi terbaru pabrikan Lockheed Martin, F-16 Block 72 Viper. Rencananya pengadaan alutsista terbaru itu akan didatangkan bertahap pada Rencana Strategis (Renstra) tahap IV yang dimulai 1 Januari 2020 hingga akhir tahun 2024.

“Insya Allah kita akan beli dua Skadron di Renstra berikutnya 2020 sampai 2024. Kita akan beli tipe terbaru Block 72 Viper,” ungkap Yuyu Sutisna (28/10/2019), seperti dikutip Antara.

Yuyu menjelaskan, saat ini Indonesia baru diperkuat 33 unit jet tempur Fighting Falcon dengan jenis F-16A/B Blok 15 OCU dan F-16C/D Blok 52ID.

Jumlah tersebut terbagi dalam dua skadron, yakni Skadron Udara 16 Lanud Roesmin Nurjadin di Pekanbaru yang diperkuat 16 unit F-16C/D Blok 52ID, sementara Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi di Malang, Jawa Timur yang dihuni 7  unit F-16C/D Blok 52ID dan 10 unit F-16A/B Blok 15 OCU.

Yuyu berharap pengadaan 24 unit jet tempur versi terbaru dari F-16 itu bisa segera diproses pada awal tahun depan.

“Mudah-mudahan 1 Januari 2020 diproses sehingga bisa menambah kekuatan kita. Kalau kita memiliki itu, berarti kita termasuk memiliki F-16 tercanggih,” tegasnya.

Memilih varian terbaru F-16 sebagai tulang punggung penggebuk musuh di langit Indonesia bukan tanpa alasan. Yuyu menilai populasi pesawat jenis F-16 di dunia mencapai lebih dari 3.000 unit dan digunakan oleh banyak negara di dunia. Selain itu, sejumlah operasi militer juga berhasil dilakukan dengan menggunakan pesawat tersebut.

“Banyaknya yang menggunakan dan banyaknya populasi tentunya keandalan pesawat ini sangat baik,” terang Yuyu.

Indonesia bisa dibilang sebagai operator pertama F-16 Fighting Falcon di kawasan ASEAN. Akuisisinya melalui program pengadaan dengan sandi Peace Bima Sena I pada dasawarsa ’90-an.

Sebelumnya, TNI AU juga masih menanti kedatangan pesanan jet tempur versi terbaru keluarga Flanker, Sukhoi Su-35 Flanker-E atau Super Flanker. Menteri Pertahanan saat itu, Ryamizard Ryacudu pada 10 September 2018 menyatakan bahwa dua pertama jet tempur anyar asal Rusia tersebut bakal tiba di Indonesia pada Agustus 2019 dan bahkan akan melakukan demo udara di Hari Jadi ke-74 TNI. Tapi hingga kini batang hidung Su-35 belum juga muncul.

Pada 9 April 2019, Yuyu menyebutkan kepada IndoAviation bahwa di Renstra IV 2020-2024 TNI AU juga akan mengembangkan Network Centric Warfare, serta pengadaan pesawat tanker dan AWACS (Airborne Warning and Control System).

Dia menyebutkan, 2019 merupakan tahun akhir dari Renstra III sekaligus akhir kebijakan Minimum Essential Force (MEF) tahap II. Dia berharap tugas-tugas perencanaan dan kontrak-kontrak pengadaan yang sedang diproses pada Renstra III dan MEF II bisa terselesaikan seluruhnya pada tahun ini.

“Tahun depan kita sudah mulai Renstra IV tahun 2020-2024. Tentunya di Renstra yang sekarang kita harus menyelesaikan tugas dan juga kita sekaligus harus merencanakan untuk kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan, baik dalam pembangunan pertahanan udara maupun pembinaan personel,” ujarnya.

Dia merinci, kontrak-kontrak yang harus diselesaikan terdiri dari pesawat tempur generasi 4.5 pengganti F-5 E/F Tiger II, lima unit C-130 J Super Hercules, 9 unit NC-212, 8 helikopter H225M Super Cougar, dan 6 unit UAV kualifikasi MALE (Medium-Altitude Long-Endurance).

Selain itu pesawat lain yang akan dibeli adalah 6 unit Canadair CL-415 “SuperScooper” pabrikan Viking Air Ltd, Kanada. Pesawat ini akan digunakan untuk misi pengintaian, pencarian dan pertolongan (SAR), serta pemadaman kebakaran.

Alutsista lainnya akan akan diselesaikan pengadaannya adalah rudal NASAMS (Norwegian Advanced Surface to Air Missile), rudal AIM-120 AMRAAM (Advanced Medium-Range Air-to-Air Missile) dan meriam pertahanan udara Oerlikon Skyshield.

“Itu kira-kira pengadaan yang akan dilaksanakan di 2019. Kita ketahui bahwa alutsista tersebut tentunya tidak bisa sekarang dipesan, (lalu) sekarang datang. Akan bertahap mulai akhir 2020 dan seterusnya. Sehingga itulah yang saya katakan tadi kita optimis 2024 tercapai MEF tahap III,” tandasnya.

Baca ini juga ya!