Tue. Aug 20th, 2019

Berapa Rasio Kru Kokpit di Indonesia?

Assalamualaikum semua …

Salah satu sebab delayed (tertunda) penerbangan adalah belum baiknya penataan pertukaran kru penerbangan (pilot dan awak kabin). Maka pada tahun 2017, Ditjen Perhubungan Udara mencanangkan rasio kru penerbangan 1:3,5 atau satu pesawat berbanding tiga setengah penyediaan kru (set crew).

Rasio untuk satu pesawat terbang berbanding tiga setengah set crew itu minimum karena regulator meminta agar maskapai penerbangan harus punya rasio lebih dari itu. Maskapai penerbangan pun harus meningkatkan manajemen sistem skedul dan rotasi kru, sehingga setiap kru penerbangan, khususnya pilot, tidak melampaui jam kerjanya. Dengan sistem manajemen air crew yang baik, tidak ada alasan delayed lagi.

Pencanangan rasio kru minimum itu direspons Lion Air Group, khususnya Lion Air, yang dinilai masih sering delayed. Lion Air Group akan menaikan indeksnya menjadi satu berbanding lima (1:5) agar operasional penerbangan lancar.

Sebelum ada pencanangan rasio kru kokpit itu, umumnya maskapai sudah menerapkan rasio minimum 1:3. Setiap satu pesawat berbadan sedang (narrow body) sejenis Boeing 737-800/900 atau Airbus A320 diterbangkan oleh dua pilot, yakni satu captain dan satu first officer (FO).

Jadi, untuk satu pesawat, jika rasio minimalnya 1:3,5, harus ada tujuh pilot –bisa tiga captain dan empat FO atau sebaliknya. Jika Lion Air akan menetapkan rasio 1:5, untuk satu pesawat harus tersedia sepuluh pilot atau lima captain dan lima FO.

Untuk operasional pesawat berbadan lebar (wide body), seperti Boeing 777-300 atau Airbus A330-300, biasanya rasionya lebih besar lagi. Garuda Indonesia misalnya, menerapkan rasio 1:6 sampai 1:8. Rasio kru penerbangan itu, khususnya kru kokpit, memang tidak sama di setiap maskapai penerbangan.

Operasional kru pesawat dalam melakukan tugasnya menggunakan sistem penjadwalan dengan aplikasi berstandar internasional. Lion Air Group menggunakan Geneva Crew Scheduling System, yang cocok untuk maskapai penerbangan berkonsep LCC (low cost carrier) karena simpel. Namun untuk meningkatkan sistemnya, kabarnya Lion Air akan menggantinya dengan Cyber Jet Airline Solutions.

Pernah dapat informasi dari Capt Anaziaz Zikir (Azzy), pilot Indonesia yang menjadi bagian dari GACC (General Civil Aviation Authority) Uni Emirate Arab bahwa maskapai harus punya sistem dengan software yang efektif, efisien, optimum, dan berkelanjutan. Katanya, untuk operator sebesar Lion Air Group, pengoperasi software yang terintegrasi dengan benar dan digunakan optimum mutlak diperlukan. Bahkan pastinya memerlukan teknologi yang harus terus-menerus disesuaikan dengan kebutuhannya.

Jika seluruh operator penerbangan nasional sudah memiliki software yang benar, para inspektur dari Ditjen Perhubungan Udara dapat melakukan pekerjaannya dengan efektif, efisien, dan optimum juga. Datang ke operator, ia cukup menanyakan software yang digunakannya dan melakukan pengawasan dengan cermat dan tepat melalui kinerja software tersebut. Dari data itu pula bisa dicocokkan dengan tech log perawatan pesawat.

Software yang terintegrasi bisa menangani perencanaan, penjadwalan, logbook untuk pilot dan awak kabin, plus data penumpang. Bahkan bisa pula digunakan untuk, antara lain, sistem pelaporan jam terbang, penggajian, juga bisa dikombinasikan antara inspektur operasi penerbangan (flight operation) dengan inspektur kelaikan udara (airworthiness). Sejalan dengan fungsinya yang menjadi lebih kompleks, petugas operasional software itu harus orang yang sudah terlatih.

Dengan software yang terintegrasi dan dioperasikan dengan benar, boleh jadi tak ada lagi kelebihan jam terbang pilot, ada pemerataan jam terbang setiap pilot, bahkan bisa terdeteksi hal-hal yang tidak sesuai regulasi lainnya. Dengan demikian, ada pencegahan untuk terjadinya hal-hal yang tidak dinginkan, seperti insiden dan kecelakaan.

Memang tidak murah biaya software untuk membuat sistem skedul yang di dalamnya ada regulasinya itu. Kisaran harganya 150.000-200.000 dolar AS. Setelah dibeli, agar penggunaannya optimal, perlu dilakukan pelatihan bagi mereka yang akan mengoperasikannya.

Boleh jadi, penggunaannya yang tidak optimum karena operator hanya membeli software tanpa membeli pelatihannya. “Kalau beli software itu memang harus seakar-akarnya dan cari orang yang benar-benar paham,” saran Azzy.